SEKILAS INFO
05-06-2020
  • 1 minggu yang lalu / 22 Juni s/d 4 Juli : Pendaftaran Peserta Didik Baru TP. 2020-2021
  • 1 minggu yang lalu / Bantu Lawan Corona, Musbartig : Alumni Smansa 2003 sumbang Hand Sanitizer
  • 1 bulan yang lalu / Peduli Dampak Covid-19, SMANSA Sumbang Puluhan Karung Beras
11
Jul 2017
0

Merdeka Belajar

oleh Indra Charismiadji

Merdeka Belajar sebagai paket kebijakan Mendikbud milenial, Nadiem Makarim sudah masuk ke episode ketiga. Kebijakan ini masih menghadirkan beragam pertanyaan di kalangan masyarakat termasuk para insan pendidikan. Bukankah Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 2045? Mengapa sekarang baru diminta merdeka? Apakah maksud dari dan tujuan dari kebijakan ini?

Seorang novelis Amerika Serikat bernama Walter Mosley mengatakan, “Freedom is a state of mind, our bodies cannot know absolute freedom but our minds can (red: kemerdekaan adalah suatu kondisi pikiran, badan kita tidak akan pernah merasakan kemerdekaan yang mutlak tetapi pikiran kita bisa).”  Jika kemerdekaan berhubungan dengan pikiran maka kemerdekaan akan berhubungan dengan tingkat penalaran. Dalam dunia pendidikan klasifikasi tingkat penalaran ini sering disebut taksonomi. Di abad 21 ini, taksonomi sering dijadikan acuan dalam dunia pendidikan adalah karya Lorin Anderson dan David Krathwohl tahun 2001, yang lebih dikenal dengan istilah penalaran tingkat lebih tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). HOTS merupakan revisi dari taksonomi yang disusun oleh Benjamin Bloom tahun 1956.

Dalam konsep HOTS terdapat enam tingkatan kemampuan bernalar manusia, dimulai dari yang paling rendah yakni mengingat / menghafal (remembering), kemudian memahami (understanding), mengaplikasikan / menerapkan (applying), menganalisis (analysing), mengevaluasi / menilai (evaluating), dan tingkatan yang paling tinggi adalah mencipta (creating).

Kemampuan berpikir menghafal, memahami dan menerapkan disebut dengan penalaran dengan tingkat yang lebih rendah (Lower Order Thinking Skills), sedangkan untuk kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan termasuk ke dalam kategori kemampuan berpikir tingkat yang lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Banyak pendidik banyak yang sangat yakin bahwa mengingat / menghafal adalah konsep yang paling penting dalam pendidikan, sering kali saya terlibat dalam perdebatan ini. Menurut saya, otak manusia bukan diciptakan untuk menyimpan informasi. Terbukti dengan segala sesuatu yang kita hafalkan sebagian besar akan kita lupakan. Terbukti apabila seseorang belajar dengan pola SKS (sistem kebut semalam) saat menghadapi ujian pada keesokan hari, walaupun pola ini cukup bermanfaat untuk menghadapi ujian, namun setelah ujian biasanya materi-materi tersebut akan terlupakan. Artinya, apa yang sudah dipelajari tidak bermanfaat untuk hidup karena sudah dilupakan. Hal ini ditegaskan oleh kajian seorang psikolog Jerman yang bernama Hermann Ebbinghaus dengan Kurva Lupa Manusia (Human Forgetting Curve). Ini yang membuat menghafal ditempatkan di tingkat nalar yang paling rendah.

Tingkatan selanjutnya adalah memahami. Contoh, apabila anak-anak sekolah diberikan pertanyaan sebagai berikut:

Dimana kah tempat yang paling tepat untuk membuat sampah?

a. Laut     b. Sungai
c. Trotoar     d. Tong Sampah

Kita akan sangat yakin bahwa semuanya akan menjawab d. Tong Sampah dengan benar. Walaupun secara teori mereka sudah tahu jawaban yang benar tetapi hal ini bukan berarti dalam kehidupan sehari-hari anak-anak tersebut mampu dan mau membuang sampah di tong sampah. Jadi dalam tingkat nalar ini, mereka hanya mampu memahami teori saja tanpa mampu mempraktikkan.

Sedangkan bagi mereka yang sudah mampu membuang sampah di tong sampah ada dua kemungkinan tingkat penalarannya. Yang termasuk dalam penalaran tingkat yang lebih rendah (LOTS) adalah mereka yang walaupun mampu mengaplikasikan / mempraktikkan dalam tindakan nyata namun mereka tidak tahu mengapa mereka melakukan hal tersebut. Biasanya mereka hanya merasa terpaksa, wajib, atau takut dengan hukuman. Jadi mereka ini ketika ditanya mengapa membuang sampah di tong sampah, jawabannya akan berkisar karena sudah aturan sekolah, nanti dimarahi / dihukum oleh guru atau orang tua, nanti tidak naik kelas, dan lain sebagainya. Di sini menunjukkan bahwa faktor ekstrinsik (luar diri) jauh lebih dominan daripada faktor intrinsik (dalam diri) dalam pengambilan keputusan.

Sebaliknya bagi mereka yang mampu menjelaskan alasan membuang sampah di tong sampah seperti: untuk menjaga kesehatan dan keindahan lingkungan; untuk menghindari banjir; untuk menghindari penyakit; dan lain-lain. Tingkat nalar mereka sudah di level Analisa, dalam arti mereka mampu menganalisis sendiri tindakan yang dilakukan dari sebab sampai akibatnya. Mereka tidak sekadar ikut perintah dalam melakukan sesuatu tetapi dengan kesadaran penuh. Tingkat bernalar ini sudah masuk tingkat penalaran lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Tingkat bernalar yang lebih tinggi lagi adalah evaluasi. Mereka yang memiliki kemampuan berpikir di level ini, akan melihat sampah bukan sekadar sampah yang harus dibuang di tong sampah, tetapi mereka bisa mengevaluasi sampah itu berbagai ragamnya, ada yang mudah didaur ulang dan ada juga yang sulit sekali didaur ulang seperti sampah plastik. Oleh karenanya, mereka memisahkan sampah-sampah tersebut berdasarkan jenisnya mulai dari sampah kertas, plastik, organic, dan lainnya. Mereka mampu mengevaluasi tindakannya sendiri.

Tingkat keterampilan berpikir paling tinggi dalam HOTS adalah menciptakan. Di sini lah manusia mampu menciptakan hal yang baru atau membuat gerakan baru untuk suatu perubahan nyata. Misalnya dengan membuat pupuk kompos dari sampah, menciptakan karya dari bahan sampah (daur ulang), maupun membuat sebuah gerakan sekolah / kampung bebas sampah.

Dengan demikian jelaslah perbedaan antara nalar rendah yang dalam bertindak hanya sebatas ikut perintah orang lain, tidak memiliki pilihan karena kewajiban semata, dan biasanya akan merasa ditekan (tidak merdeka). Sedangkan mereka yang bernalar tinggi adalah orang-orang yang selalu punya pilihan (merdeka) karena mereka sadar penuh sebab dan akibat segala tindakan yang dilakukannya.

Konsep nalar inilah yang mendasari program Merdeka Belajar.  Sebenarnya konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dengan rumus Ngandel à Kandel  à Kendel à Bandel. Ngandel artinya percaya, jika kita percaya terhadap pemikiran sendiri maka kita tidak akan mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain (kandel atau tebal). Jika kita tidak tergoyahkan maka kita akan berani (kendel) menghadapi siapapun dalam beragumentasi. Dan orang-orang yang berani ini biasanya disebut bandel. Program Merdeka Belajar ingin mendorong manusia Indonesia yang cerdas dan mampu bertindak tanpa diperintah. Belajar karena butuh belajar bukan karena hanya ada Ujian Nasional saja. Konsep bernalar tinggi inilah yang menjadi fondasi dari SDM Unggul Indonesia. (sumber: http://www.mentarigroups.com )

 

Pengumuman

Penerimaan Raport Siswa TA. 2019-2020

Pendaftaran Peserta Didik Baru

Penilaian Akhir Semester Genap TP. 2019/2020

Pengumuman Kelulusan Siswa Kelas XII Tahun Pelajaran 2019-2020

Arsip

Visitor Stats