SEKILAS INFO
22-09-2021
  • 3 hari yang lalu / Amelia Margaretha Meraih Juara 1 Sulawesi Tenggara Lomba Lagu Daerah yang di gelar di kendari oleh dikbud Sultara
  • 1 bulan yang lalu / Juara 1 Lomba Wajah Bahasa Sekolah, SMA Negeri 1 Baubau wakili Sultra ke Tingkat Nasional
  • 4 bulan yang lalu / Siswi SMA Negeri 1 Baubau Atas Nama Rambu Reninta Kanaya Lamba Awang lolos seleksi Asian Youth Internasional Model United Nations 2021

Punahnya Bahasa Daerah adalah hilangnya jati diri dan identitas budaya suatu suku bangsa. Bergantinya generasi seiring dengan menurunnya jumlah penutur merupakan salah satu faktor penyebab punahnya bahasa daerah. Generasi muda sudah tidak perduli dengan bahasa yang diwariskan para leluhurnya, respon terhadap penggunaan bahasa daerah acapkali muncul anggapan bahwa bahasa daerah kurang keren atau tidak gaul.

Perubahan zaman yang terus terjadi membuat generasi muda asing dengan budaya dan bahasanya sendiri. Munculnya gejala yang mengarah pada punahnya suatu bahasa daerah harus disikapi lebih dini. Beranjak dari semua permasalahan itu, La Ode Muhammad Kamal Taufan, S.Pd. seorang pemerhati Budaya  dan Bahasa Wolio angkat bicara, Selasa, (4/5/2021) di kediamannya, kelurahan Katobengke, Kota Baubau.

La Ode Muhammad Kamal Taufan, S.Pd. menuturkan di era saat ini dengan semakin maraknya pengaruh global, generasi muda sangat sulit dan bahkan tidak sama sekali menggunakan bahasa daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari. Berbicara tentang penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa wolio dikalangan masyarakat kota baubau, ada beberapa kendala yang dihadapi. Warga pribumi yang berdomisili di kecamatan Murhum, batupoaro, betoambari hampir tidak menggunakan lagi bahasa wolio sebagai interaksi atau komunikasi  dalam lingkungan keluarga.

“ternyata permasalahannya yaitu kurangnya intensitas penggunaan bahasa dalam lingkup keluarga dan besarnya pengaruh arus globalisasi. Selain itu, secara intern substansi utama yang menyebabkan generasi muda minim dan bahkan tidak sama sekali menggunakan bahasa wolio yakni kondisi  heterogen masyarakat  setempat. Pola-pola percampuran dalam kehidupan masyarakat  seperti perkawinan memberikan pengaruh cukup besar terhadap penggunaan bahasa wolio sebagai alat komunikasi”. Papar Kamal Taufan

Dampak dari Heterogenitas perkawinan meminimalisir penggunaan bahasa wolio dalam lingkungan keluarga. pada umumnya seorang anak lebih memilih menggunakan bahasa lain dalam berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Dimulai dari lingkungan kecil inilah membuat merosot pemahaman generasi muda terhadap bahasanya sendiri. Penekanan sikap kedua orang tua kepada anak untuk mempelajari salah satu bahasa yang dimiliki mereka tidak ditanamkan sejak dini.

pengumuman

Webinar Pendidikan-Quipper

Lawan Covid-19 dengan Mematuhi 5 M

Penerimaan Peserta Didik Baru 2021

Yuk Daftar Jadi Taruna AKKP Wakatobi

Pelantikan Pengurus OSIS Masa Bakti 2020-2021

Podcast_Smansa

Visitor Stats




Chat Kami
Can We Help You ?