SEKILAS INFO
22-09-2021
  • 3 hari yang lalu / Amelia Margaretha Meraih Juara 1 Sulawesi Tenggara Lomba Lagu Daerah yang di gelar di kendari oleh dikbud Sultara
  • 1 bulan yang lalu / Juara 1 Lomba Wajah Bahasa Sekolah, SMA Negeri 1 Baubau wakili Sultra ke Tingkat Nasional
  • 4 bulan yang lalu / Siswi SMA Negeri 1 Baubau Atas Nama Rambu Reninta Kanaya Lamba Awang lolos seleksi Asian Youth Internasional Model United Nations 2021

Program-program yang pernah dilakukan di masa lalu seharusnya dipertahankan, semakin berkembangnya globalisasi justru semakin bertambah juga strategi untuk mempertahankan budaya dan bahasa daerah itu, sebab suatu saat nanti nama besar suatu daerah hanyalah sebuah nama, pondasi dari budaya adalah bahasa, bagaimana  bisa mencintai budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu sementara bahasa sebagai dasarnya sudah tidak pahami. Kemungkinan akan terjadi, 5 hingga 10 tahun kedepan bahasa suatu daerah perlahan akan punah.

“Saya melihat, 7 hingga 9 tahun lalu ada kurikulum muatan lokal yang isinya tentang sejarah dan kebudayaan masyarakat Buton di lingkup akademik, saat ini tidak ada diakibatkan oleh sistem kurikulum pendidikan yang baru. Melihat kondisi ini dibutuhkan peran aktif masyarakat seperti lembaga budaya yang bisa memberikan himbauan dan masukan kepada pemangku kebijakan agar budaya dan bahasa tidak terkikis”.kata pria 2 anak itu. 

Gambaran sederhana tentang pengaruh sebuah lembaga kebudayaan, cirinya terlihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tugas generasi muda sudah banyak yang dilakukan, namun semuanya tidak mampu untuk menangkal pengaruh globalisasi, ditambah lagi dengan semakin canggihnya teknologi dimana setiap orang dimanjakan dengan mudahnya informasi sehingga waktu aktivitas lebih banyak tersita di depan gawai teknologi, artinya jumlah waktu yang digunakan dalam sehari dominan terpolarisasi pada informasi yang ada di dalam gadget. Pencarian informasi atau pengetahuan tentang budayanya sendiri hilang dalam mainset mereka.

Di tempat yang berbeda, Kepala SMA Negeri 1 Baubau, Muhammad Radi, S.Pd., MM.Pd. mengatakan, keberadaan satu komunitas pencinta budaya dan bahasa wolio di lingkungan sekolah sangatlah penting, meski pengaruh globalisasi terus berkembang, namun dalam akademik masih ada satu generasi yang mempertahankan  budaya dan bahasa wolio dalam berkomunikasi. komunitas kecil semacam ini bisa menjadi barometer sehingga penuturan bahasa wolio bisa mempengaruhi orang lain disekitarnya.

“membangun pengaruh komunitas, SMA Negeri 1 Baubau telah mencanangkan penggunaan bahasa wolio sesama civitas akademik 2 kali seminggu. Pengaruhnya dapat dilihat pada respon seseorang ketika dalam satu institusi menggunakan bahasa wolio sebagai wadah komunikasi”. Ungkap Radi

pengumuman

Webinar Pendidikan-Quipper

Lawan Covid-19 dengan Mematuhi 5 M

Penerimaan Peserta Didik Baru 2021

Yuk Daftar Jadi Taruna AKKP Wakatobi

Pelantikan Pengurus OSIS Masa Bakti 2020-2021

Podcast_Smansa

Visitor Stats




Chat Kami
Can We Help You ?